Saunders, M., 2023. Research methods for business students. Person Education Limited. (pg. 145-161).
Dalam bagian ini, kami membahas lima filosofi utama dalam bisnis dan manajemen: positivisme, realisme kritis, interpretivisme, postmodernisme, dan pragmatisme (Tabel 4.3).
Positivisme
Kami telah memperkenalkan filosofi penelitian positivisme secara singkat dalam pembahasan mengenai objektivisme dan fungsionalisme sebelumnya dalam bab ini. Positivisme berkaitan dengan pendirian filosofis ilmuwan alam dan mencakup kerja dengan realitas sosial yang dapat diamati untuk menghasilkan generalisasi yang menyerupai hukum. Positivisme menjanjikan pengetahuan yang tidak ambigu dan akurat, serta berasal dari karya Francis Bacon, Auguste Comte, dan kelompok filsuf serta ilmuwan awal abad kedua puluh yang dikenal sebagai Vienna Circle.
Istilah positivisme mengacu pada pentingnya apa yang “diposisikan” (posited) — yaitu sesuatu yang “diberikan” (given). Hal ini menekankan fokus positivisme pada metode empirisis ilmiah yang ketat, yang dirancang untuk menghasilkan data dan fakta murni yang tidak dipengaruhi oleh interpretasi atau bias manusia (Tabel 4.3). Saat ini terdapat “berbagai macam positivisme yang membingungkan”, dengan Crotty (1998) mencatat setidaknya 12 variasi.
Jika Anda mengadopsi posisi positivis yang ekstrem, Anda akan memandang organisasi dan entitas sosial lainnya sebagai sesuatu yang nyata dengan cara yang sama seperti objek fisik dan fenomena alam itu nyata. Secara epistemologis, Anda akan berfokus pada penemuan fakta dan pola yang dapat diamati serta diukur, dan hanya fenomena yang dapat Anda amati dan ukur yang akan menghasilkan data yang kredibel dan bermakna (Crotty 1998). Anda akan mencari hubungan kausal dalam data untuk menciptakan generalisasi menyerupai hukum seperti yang dihasilkan oleh para ilmuwan. Anda akan menggunakan aturan dan hukum universal ini untuk membantu menjelaskan dan memprediksi perilaku serta peristiwa dalam organisasi.
Sebagai peneliti positivis, Anda mungkin menggunakan teori yang sudah ada untuk mengembangkan hipotesis. Hipotesis adalah pernyataan yang memberikan penjelasan hipotetis yang dapat diuji dan dikonfirmasi, baik seluruhnya maupun sebagian, atau dibantah, sehingga mengarah pada pengembangan teori lebih lanjut yang kemudian dapat diuji melalui penelitian lanjutan.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagai seorang positivis Anda harus selalu memulai dari teori yang sudah ada. Semua ilmu alam berkembang dari keterlibatan dengan dunia, di mana data dikumpulkan dan observasi dilakukan sebelum hipotesis dirumuskan dan diuji. Bahkan, para positivis awal menekankan pentingnya penelitian induktif karena pentingnya data empiris, meskipun saat ini penelitian positivis cenderung bersifat deduktif (lihat Bagian 4.5). Hipotesis yang dikembangkan, seperti pada Kotak 4.5, akan mengarah pada pengumpulan fakta (bukan sekadar kesan), yang kemudian menjadi dasar bagi pengujian hipotesis selanjutnya.
Sebagai seorang positivis, Anda akan berusaha tetap netral dan menjaga jarak dari penelitian serta data Anda untuk menghindari memengaruhi temuan penelitian. Ini berarti bahwa Anda akan melakukan penelitian, sejauh mungkin, dengan cara yang bebas nilai (value-free). Bagi kaum positivis, posisi ini dianggap masuk akal karena data yang mereka kumpulkan bersifat terukur dan dapat dikuantifikasi. Mereka mengklaim berada di luar proses pengumpulan data karena hanya sedikit hal yang dapat dilakukan untuk mengubah substansi data yang dikumpulkan.
Pertimbangkan, misalnya, perbedaan antara data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner online (Bab 11), di mana responden memilih sendiri jawaban dari pilihan yang telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti, dan wawancara mendalam (in-depth interviews) (Bab 10). Dalam kuesioner online, peneliti menentukan daftar kemungkinan jawaban sebagai bagian dari proses desain. Setelah itu, peneliti dapat mengklaim bahwa nilai-nilai pribadinya tidak memengaruhi jawaban yang diberikan responden.
Sebaliknya, wawancara mendalam mengharuskan peneliti merumuskan pertanyaan sesuai dengan masing-masing partisipan dan menafsirkan jawaban mereka. Tidak seperti dalam kuesioner, pertanyaan-pertanyaan tersebut kemungkinan besar tidak diajukan dengan cara yang persis sama. Sebaliknya, pewawancara menggunakan pertimbangannya dalam menentukan apa yang perlu ditanyakan untuk mengumpulkan penjelasan atau pengalaman yang dipimpin oleh partisipan (participant-led accounts) sekomprehensif dan sekaya mungkin.
Peneliti positivis cenderung menggunakan metodologi yang sangat terstruktur untuk mempermudah replikasi penelitian. Selain itu, penekanannya berada pada observasi yang dapat dikuantifikasi sehingga memungkinkan dilakukan analisis statistik (Kotak 4.5). Namun, sebagaimana akan Anda baca pada bab-bab berikutnya, terkadang penelitian positivis juga menggunakan metode pengumpulan data lainnya dan berupaya mengkuantifikasi data kualitatif, misalnya dengan menerapkan pengujian hipotesis pada data yang awalnya dikumpulkan melalui wawancara mendalam.
Anda mungkin berpendapat bahwa mengecualikan nilai-nilai pribadi kita sebagai peneliti adalah sesuatu yang mustahil. Bahkan peneliti yang mengadopsi posisi positivis tetap melakukan pilihan terkait isu yang akan diteliti, tujuan penelitian yang ingin dicapai, dan data yang akan dikumpulkan. Bahkan, dapat diperdebatkan bahwa keputusan untuk mencoba mengadopsi perspektif bebas nilai justru menunjukkan adanya posisi nilai tertentu.
Bagaimana seorang peneliti dapat sepenuhnya menghindari pengaruh terhadap apa yang diteliti, bahkan ketika menggunakan metode yang dianggap “objektif”, sementara ia sendiri merumuskan pertanyaan dalam kuesioner atau menetapkan parameter serta kondisi eksperimen? Dan karena itu, bagaimana seorang peneliti dapat mencegah pandangan pribadinya berkembang menjadi bias yang memengaruhi penelitiannya?
Jika Anda mengikuti alur pemikiran ini, maka Anda sedang menapaki jejak banyak sarjana dan pemikir yang mengkritik positivisme. Beberapa pemikir tersebut — yang paling terkenal adalah Karl Popper — kemudian diasosiasikan dengan suatu gerakan filosofis yang disebut postpositivism (postpositivisme), yang berupaya sekaligus mempertanyakan positivisme dan mereformasinya untuk menjawab berbagai kritik tersebut. Kritik terhadap positivisme ini juga berkontribusi pada perkembangan empat filosofi penelitian lainnya yang kami bahas berikutnya.
Realisme Kritis (Critical Realism)
Penting untuk tidak menyamakan filosofi critical realism (realisme kritis) dengan bentuk realisme yang lebih ekstrem yang mendasari filosofi positivisme. Bentuk yang terakhir ini, yang kadang disebut direct realism (realisme langsung) atau naïve empirical scientific realism (realisme ilmiah empiris naif), menyatakan bahwa apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda dapatkan (what you see is what you get): apa yang kita alami melalui indera kita menggambarkan dunia secara akurat.
Sebaliknya, filosofi realisme kritis berfokus pada penjelasan terhadap apa yang kita lihat dan alami, dalam hal tentang struktur-struktur mendasar dari realitas yang membentuk peristiwa-peristiwa yang dapat diamati. Critical realism (realisme kritis) muncul pada akhir abad kedua puluh melalui karya Roy Bhaskar, sebagai respons terhadap direct realism positivistik dan nominalisme postmodernis (yang dibahas kemudian), serta menempati posisi tengah di antara kedua pandangan tersebut (Reed 2005).
Bagi kaum realis kritis, realitas merupakan pertimbangan filosofis yang paling penting, sehingga ontologi yang terstruktur dan berlapis menjadi sangat krusial (Fleetwood 2005). Kaum realis kritis memandang realitas sebagai sesuatu yang eksternal dan independen, tetapi tidak dapat diakses secara langsung melalui observasi dan pengetahuan kita tentangnya (Tabel 4.3). Sebaliknya, apa yang kita alami adalah “yang empiris” (the empirical), yaitu sensasi-sensasi yang merupakan sebagian manifestasi dari hal-hal di dunia nyata, bukan hal-hal itu sendiri. Kaum realis kritis menekankan bahwa indera kita sering kali menipu kita.
Saat Anda menonton pertandingan kriket di televisi, misalnya, Anda kemungkinan melihat iklan sponsor pada permukaan lapangan yang tampak berdiri tegak di atas pitch. Namun, ini hanyalah ilusi. Sebenarnya, iklan tersebut dilukis di atas rumput. Jadi, yang kita lihat adalah sensasi atau representasi dari sesuatu yang nyata, bukan realitas itu sendiri.
Realisme kritis menyatakan bahwa terdapat dua langkah untuk memahami dunia. Pertama, terdapat sensasi dan peristiwa yang kita alami. Kedua, terdapat proses mental yang terjadi setelah pengalaman tersebut, ketika kita “bernalar mundur” (reason backwards) dari pengalaman kita menuju realitas mendasar yang mungkin menyebabkannya. Penalaran mundur ini pada dasarnya bersifat abduktif, tetapi oleh kaum realis kritis sering disebut retroduction (Reed 2005) — lihat Bagian 4.5.
Direct realism mengatakan bahwa langkah pertama saja sudah cukup. Untuk melanjutkan contoh pertandingan kriket, wasit yang berpandangan realisme langsung akan mengatakan tentang keputusan-keputusannya: “Saya memutuskan sesuai apa adanya!” (I give them as they are!). Sebaliknya, wasit yang berpandangan realisme kritis akan berkata: “Saya memutuskan sesuai apa yang saya lihat!” (I give them as I see them!).
Kaum realis kritis akan menunjukkan bahwa apa yang diamati wasit (“Empirical”) hanyalah sebagian kecil dari segala sesuatu yang sebenarnya dapat ia lihat; hanya sebagian kecil dari keseluruhan peristiwa “Actual” yang terjadi pada suatu waktu tertentu (Gambar 4.5). Misalnya, seorang pemain mungkin menghalangi pandangan wasit terhadap pemain lain yang melakukan pelanggaran.
Kaum realis kritis juga menekankan bahwa apa yang tidak dilihat wasit adalah penyebab mendasar (“Real”) dari suatu situasi (Gambar 4.5). Sebagai contoh, apakah sundulan kepala (head-butt) benar-benar merupakan pelanggaran yang disengaja, atau hanya kecelakaan? Wasit tidak dapat mengalami makna nyata dari situasi tersebut secara langsung. Sebaliknya, ia harus menggunakan data sensorik dari “Empirical” yang diamatinya dan menggunakan penalaran untuk memahaminya.

Jika Anda percaya bahwa, sebagai peneliti, kita perlu melihat gambaran yang lebih besar yang sebenarnya hanya sebagian kecil saja dapat kita lihat, maka Anda mungkin cenderung pada filosofi realisme kritis. Roy Bhaskar (2011) berpendapat bahwa kita hanya akan mampu memahami apa yang terjadi di dunia sosial jika kita memahami struktur-struktur sosial yang melahirkan fenomena yang sedang kita coba pahami. Ia menulis bahwa kita dapat mengidentifikasi apa yang tidak kita lihat melalui proses praktis dan teoretis ilmu-ilmu sosial.
Karena itu, penelitian realisme kritis berfokus pada pemberian penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa organisasi yang dapat diamati dengan mencari penyebab dan mekanisme mendasar yang melaluinya struktur sosial yang mendalam membentuk kehidupan organisasi sehari-hari. Karena fokus ini, banyak penelitian realisme kritis berbentuk analisis historis mendalam terhadap struktur sosial dan organisasi, serta bagaimana struktur tersebut berubah sepanjang waktu (Reed 2005).
Dalam fokus mereka terhadap analisis historis struktur, kaum realis kritis menerima epistemological relativism (relativisme epistemologis) (Reed 2005), yaitu pendekatan pengetahuan yang bersifat (sedikit) subjektivis. Relativisme epistemologis mengakui bahwa pengetahuan bersifat historis atau terikat pada konteks zamannya (dengan kata lain, pengetahuan merupakan produk dari suatu masa tertentu dan spesifik terhadap masa tersebut), serta bahwa fakta sosial adalah konstruksi sosial yang disepakati oleh manusia, bukan sesuatu yang ada secara independen (Bhaskar 2008).
Hal ini menyiratkan bahwa konsep kausalitas dalam realisme kritis tidak dapat direduksi hanya menjadi korelasi statistik dan metode kuantitatif, sehingga berbagai macam metode penelitian dapat diterima (Reed 2005). Posisi aksiologis seorang realis kritis muncul dari pengakuan bahwa pengetahuan kita tentang realitas merupakan hasil dari kondisi sosial (social conditioning) — misalnya, kita mengetahui bahwa jika pemain kriket menabrak iklan yang benar-benar berdiri tegak, maka ia akan terjatuh! — dan tidak dapat dipahami secara independen dari aktor sosial yang terlibat.
Ini berarti bahwa, sebagai peneliti realisme kritis, Anda akan berusaha menyadari bagaimana latar belakang sosial-budaya dan pengalaman Anda dapat memengaruhi penelitian, serta berupaya meminimalkan bias tersebut dan tetap seobjektif mungkin.
Interpretivisme (Interpretivism)
Interpretivisme, seperti realisme kritis, berkembang sebagai kritik terhadap positivisme, tetapi dari perspektif subjektivis. Interpretivisme menekankan bahwa manusia berbeda dari fenomena fisik karena manusia menciptakan makna. Kaum interpretivis mempelajari makna-makna tersebut.
Interpretivisme muncul di Eropa pada awal hingga pertengahan abad kedua puluh melalui karya para pemikir Jerman, Prancis, dan kadang-kadang Inggris, serta terdiri dari beberapa aliran, terutama hermeneutika, fenomenologi, dan interaksionisme simbolik (Crotty 1998). Kaum interpretivis berpendapat bahwa manusia dan dunia sosial mereka tidak dapat dipelajari dengan cara yang sama seperti fenomena fisik, sehingga penelitian ilmu sosial harus berbeda dari penelitian ilmu alam dan bukan sekadar menirunya (Tabel 4.3).
Karena orang-orang yang berbeda, dengan latar belakang budaya yang berbeda, dalam keadaan yang berbeda, dan pada waktu yang berbeda, menciptakan makna yang berbeda, maka mereka juga menciptakan dan mengalami realitas sosial yang berbeda. Oleh karena itu, kaum interpretivis mengkritik upaya positivis untuk menemukan “hukum” universal yang pasti dan berlaku bagi semua orang. Sebaliknya, mereka percaya bahwa pemahaman yang kaya tentang kemanusiaan akan hilang jika kompleksitas tersebut direduksi sepenuhnya menjadi serangkaian generalisasi menyerupai hukum.
Tujuan penelitian interpretivis adalah menciptakan pemahaman dan interpretasi baru yang lebih kaya mengenai dunia sosial dan konteks sosial. Bagi peneliti bisnis dan manajemen, ini berarti melihat organisasi dari perspektif kelompok-kelompok orang yang berbeda. Mereka akan berpendapat bahwa cara CEO, direktur dewan, manajer, staf gudang, dan petugas kebersihan di sebuah perusahaan ritel online besar melihat dan mengalami organisasi berbeda satu sama lain, sampai-sampai mereka dapat dianggap mengalami realitas tempat kerja yang berbeda.
Jika penelitian hanya berfokus pada pengalaman yang umum bagi semua orang setiap saat, maka banyak kekayaan perbedaan dan keadaan individual mereka akan hilang, dan pemahaman tentang organisasi yang dihasilkan penelitian juga akan mencerminkan keterbatasan tersebut. Selain itu, perbedaan yang membuat organisasi menjadi kompleks tidak hanya terbatas pada peran organisasi yang berbeda. Karyawan laki-laki dan perempuan, atau mereka yang berasal dari latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, dapat mengalami tempat kerja dengan cara yang berbeda.
Interpretasi terhadap sesuatu yang tampaknya sama di permukaan — seperti produk, proses, atau hasil tertentu — juga dapat berbeda antara konteks historis maupun geografis.
Peneliti interpretivis berusaha memperhitungkan kompleksitas ini dengan mengumpulkan hal-hal yang bermakna bagi partisipan penelitian mereka (Kotak 4.6). Berbagai aliran interpretivisme memberikan penekanan yang sedikit berbeda mengenai bagaimana hal ini dilakukan dalam praktik:
- Kaum fenomenologis (phenomenologists), yang mempelajari eksistensi, berfokus pada pengalaman hidup partisipan (lived experiences), yaitu ingatan dan interpretasi partisipan terhadap pengalaman tersebut (Kotak 4.4).
- Kaum hermeneutik (hermeneuticists) berfokus pada studi artefak budaya seperti teks, simbol, cerita, dan gambar.
- Kaum interaksionis simbolik (symbolic interactionists), yang tradisinya berasal dari pemikiran pragmatisme dan memandang makna sebagai sesuatu yang muncul dari interaksi antar manusia, berfokus pada observasi dan analisis interaksi sosial seperti percakapan, rapat, dan kerja tim.
Secara umum, kaum interpretivis menekankan pentingnya bahasa, budaya, dan sejarah (Crotty 1998) dalam membentuk interpretasi dan pengalaman kita terhadap dunia organisasi dan sosial.
Dengan fokusnya pada kompleksitas, kekayaan makna, banyaknya interpretasi, dan proses pembentukan makna (meaning-making), interpretivisme secara eksplisit bersifat subjektivis. Implikasi aksiologis dari hal ini adalah bahwa kaum interpretivis mengakui bahwa interpretasi mereka terhadap materi dan data penelitian — serta nilai dan keyakinan pribadi mereka — memainkan peran penting dalam proses penelitian.
Hal yang sangat penting dalam filosofi interpretivisme adalah peneliti mengadopsi sikap empatik. Tantangan bagi peneliti interpretivis adalah memasuki dunia sosial partisipan penelitian dan memahami dunia tersebut dari sudut pandang mereka.
Sebagian orang berpendapat bahwa perspektif interpretivis sangat sesuai untuk penelitian bisnis dan manajemen. Hal ini karena situasi bisnis bukan hanya kompleks, tetapi juga sering kali unik, setidaknya dalam konteksnya. Situasi tersebut mencerminkan serangkaian keadaan dan interaksi tertentu yang melibatkan individu-individu yang berkumpul pada waktu tertentu.
Postmodernisme (Postmodernism)
Postmodernisme (tidak boleh disamakan dengan postmodernity, yang merujuk pada era sejarah tertentu) menekankan peran bahasa dan relasi kekuasaan, serta berupaya mempertanyakan cara berpikir yang diterima secara umum dan memberikan ruang bagi pandangan alternatif yang terpinggirkan (Tabel 4.3).
Postmodernisme muncul pada akhir abad kedua puluh dan paling erat dikaitkan dengan karya para filsuf Prancis seperti Jean-François Lyotard, Jacques Derrida, Michel Foucault, Gilles Deleuze, Félix Guattari, dan Jean Baudrillard. Postmodernisme secara historis terkait erat dengan gerakan intelektual poststructuralism (poststrukturalisme). Karena perbedaan fokus antara postmodernisme dan poststrukturalisme bersifat halus dan semakin sulit dibedakan seiring waktu, dalam bab ini hanya digunakan satu istilah, yaitu postmodernisme.
Kaum postmodernis melangkah lebih jauh dibanding kaum interpretivis dalam mengkritik positivisme dan objektivisme, dengan memberikan penekanan yang lebih besar pada peran bahasa (Tabel 4.3). Mereka menolak ontologi modern yang objektivis dan realistis mengenai “benda-benda”, dan sebaliknya menekankan primasi yang kacau dari arus, pergerakan, fluiditas, dan perubahan.
Mereka percaya bahwa setiap bentuk keteraturan bersifat sementara dan tidak memiliki dasar yang tetap, serta hanya dapat diciptakan melalui bahasa beserta kategori dan klasifikasinya (Chia 2003). Pada saat yang sama, mereka mengakui bahwa bahasa selalu bersifat parsial dan tidak memadai. Secara khusus, bahasa selalu meminggirkan, menekan, dan mengecualikan aspek-aspek tertentu dari apa yang diklaimnya deskripsikan, sambil mengutamakan dan menekankan aspek-aspek lainnya.
Karena tidak ada keteraturan dalam dunia sosial selain yang kita berikan melalui bahasa, maka tidak ada cara abstrak untuk menentukan deskripsi dunia yang “benar” atau “paling tepat”. Sebaliknya, apa yang secara umum dianggap “benar” ditentukan secara kolektif. Pilihan-pilihan kolektif ini pada gilirannya dibentuk oleh relasi kekuasaan dan ideologi yang mendominasi konteks tertentu (Foucault 2020).
Hal ini tidak berarti bahwa cara berpikir yang dominan pasti merupakan yang “terbaik” — melainkan hanya dianggap demikian pada waktu tertentu oleh kelompok orang tertentu. Perspektif lain yang ditekan atau dipinggirkan sebenarnya bisa sama berharganya dan memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia dan kebenaran alternatif.
Peneliti postmodernis berupaya mengungkap dan mempertanyakan relasi kekuasaan yang mempertahankan realitas dominan (Calás dan Smircich 2018). Hal ini dilakukan melalui proses deconstruction (dekonstruksi), yaitu membongkar realitas tersebut seolah-olah ia adalah sebuah teks, untuk mencari ketidakstabilan dalam “kebenaran” yang diterima secara luas, serta mencari hal-hal yang tidak dibahas — ketidakhadiran (absences) dan keheningan (silences) yang tercipta di balik bayang-bayang kebenaran tersebut (Derrida 2016).
Kaum postmodernis berusaha membuat hal-hal yang selama ini diabaikan atau dikecualikan menjadi lebih terlihat melalui dekonstruksi terhadap apa yang dianggap sebagai “realitas” menjadi ideologi dan relasi kekuasaan yang mendasarinya, sebagaimana seseorang membongkar bangunan tua menjadi batu bata dan semen penyusunnya.
Tujuan penelitian postmodernis adalah menantang secara radikal cara berpikir dan cara mengetahui yang telah mapan (Kilduff dan Mehra 1997), serta memberikan suara dan legitimasi kepada cara pandang dan cara mengetahui yang ditekan atau dimarginalkan yang sebelumnya telah disingkirkan (Chia 2003).
Sebagai peneliti postmodernis, alih-alih memandang dunia organisasi sebagai kumpulan benda dan entitas seperti “manajemen”, “kinerja”, dan “sumber daya”, Anda akan berfokus pada proses berkelanjutan dari mengorganisasi, mengelola, dan menciptakan keteraturan yang membentuk entitas-entitas tersebut.
Anda akan menantang konsep dan teori organisasi, serta berusaha menunjukkan perspektif dan realitas apa saja yang mereka abaikan atau bungkam, dan kepentingan siapa yang sebenarnya mereka layani. Anda juga akan terbuka terhadap dekonstruksi berbagai bentuk data — teks, gambar, percakapan, suara, maupun angka.
Seperti kaum interpretivis, Anda akan melakukan investigasi mendalam terhadap realitas organisasi. Hal yang mendasar dalam penelitian postmodernis adalah pengakuan bahwa relasi kekuasaan antara peneliti dan subjek penelitian membentuk pengetahuan yang dihasilkan dalam proses penelitian.
Karena relasi kekuasaan tidak dapat dihindari, sangat penting bagi peneliti untuk terbuka mengenai posisi moral dan etis mereka (Calás dan Smircich 2018). Oleh sebab itu, sebagai peneliti postmodernis, Anda akan berusaha bersikap sangat refleksif (radically reflexive) terhadap cara berpikir dan tulisan Anda sendiri (Cunliffe 2003).
Pragmatisme (Pragmatism)
Pada titik ini, Anda mungkin mulai berpikir: apakah perbedaan asumsi-asumsi ini benar-benar penting? Para pendukung filosofi-filosofi yang telah dibahas sebelumnya akan mengatakan bahwa hal tersebut penting, karena masing-masing menggambarkan cara yang secara fundamental berbeda dalam memandang dunia dan melakukan penelitian.
Namun, Anda mungkin memiliki pandangan yang berbeda. Jika Anda mulai merasa tidak sabar terhadap perdebatan mengenai asumsi ontologis, epistemologis, dan aksiologis di antara berbagai filosofi tersebut; jika Anda mempertanyakan relevansinya; dan jika Anda lebih memilih melanjutkan penelitian yang berfokus pada upaya membuat perbedaan nyata dalam praktik organisasi, maka Anda mungkin cenderung pada filosofi pragmatisme.
Namun demikian, Anda perlu memastikan bahwa Anda tidak menjadikan pragmatisme sebagai jalan keluar untuk menghindari tantangan memahami filosofi-filosofi lainnya!
Pragmatisme menyatakan bahwa konsep hanya relevan sejauh konsep tersebut mendukung tindakan (Kelemen dan Rumens 2008). Pragmatisme muncul di Amerika Serikat pada akhir abad kesembilan belas hingga awal abad kedua puluh melalui karya para filsuf Charles Sanders Peirce, William James, dan John Dewey.
Pragmatisme berusaha mendamaikan objektivisme dan subjektivisme, fakta dan nilai, pengetahuan yang akurat dan ketat, serta berbagai pengalaman yang terikat konteks (Tabel 4.3). Hal ini dilakukan dengan memandang teori, konsep, ide, hipotesis, dan temuan penelitian bukan dalam bentuk abstrak, melainkan berdasarkan perannya sebagai instrumen pemikiran dan tindakan, serta berdasarkan konsekuensi praktisnya dalam konteks tertentu (Tabel 4.3; Kotak 4.7).
Bagi kaum pragmatis, realitas penting karena dampak praktis dari ide-ide tersebut, dan pengetahuan dinilai berdasarkan kemampuannya memungkinkan tindakan dilakukan secara berhasil.
Bagi seorang pragmatis, penelitian dimulai dari suatu masalah dan bertujuan memberikan solusi praktis yang dapat menginformasikan praktik di masa depan. Nilai-nilai peneliti mendorong proses reflektif penyelidikan (inquiry), yang dimulai dari keraguan dan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah atau tidak pada tempatnya, lalu membangun kembali keyakinan ketika masalah tersebut telah terselesaikan (Elkjaer dan Simpson 2011).
Karena kaum pragmatis lebih tertarik pada hasil praktis daripada perbedaan abstrak, penelitian mereka dapat sangat bervariasi dalam tingkat “objektivis” atau “subjektivis”-nya. Jika Anda melakukan penelitian pragmatis, maka faktor yang paling menentukan desain dan strategi penelitian Anda adalah masalah penelitian yang ingin Anda selesaikan dan pertanyaan penelitian Anda. Pada gilirannya, pertanyaan penelitian tersebut kemungkinan besar akan mencerminkan penekanan pragmatis terhadap hasil-hasil praktis.
Jika suatu masalah penelitian tidak secara jelas menunjukkan bahwa satu jenis pengetahuan atau metode tertentu harus digunakan, hal ini justru menegaskan pandangan pragmatis bahwa sangat mungkin untuk bekerja dengan berbagai jenis pengetahuan dan metode yang berbeda.
Hal ini mencerminkan tema yang terus muncul dalam buku ini — bahwa penggunaan berbagai metode sering kali memungkinkan, bahkan sangat sesuai, dalam satu penelitian (lihat Bagian 5.3). Kaum pragmatis mengakui bahwa terdapat banyak cara berbeda untuk menafsirkan dunia dan melakukan penelitian, bahwa tidak ada satu sudut pandang pun yang dapat memberikan gambaran secara utuh, dan bahwa mungkin terdapat banyak realitas.
Namun, ini tidak berarti bahwa kaum pragmatis selalu menggunakan berbagai metode. Sebaliknya, mereka menggunakan metode atau metode-metode yang memungkinkan pengumpulan data yang kredibel, memiliki dasar yang kuat, reliabel, dan relevan untuk memajukan penelitian (Kelemen dan Rumens 2008).
4.5. Pendekatan terhadap Pengembangan Teori (Approaches to Theory Development)
Kami telah menekankan bahwa menjawab pertanyaan penelitian Anda akan melibatkan penggunaan teori (Bab 2). Teori tersebut mungkin dinyatakan secara eksplisit atau tidak dalam desain penelitian (Bab 5), meskipun biasanya akan dijelaskan secara eksplisit dalam penyajian temuan dan kesimpulan penelitian.
Sejauh mana menjawab pertanyaan penelitian melibatkan pengujian teori (theory testing) atau pembangunan teori (theory building) menimbulkan isu penting terkait desain proyek penelitian Anda. Hal ini sering digambarkan sebagai dua pendekatan penalaran yang saling berlawanan: deduktif (deductive) atau induktif (inductive), meskipun seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 4.4, penalaran juga dapat bersifat abduktif (abductive).
Penalaran Deduktif (Deductive Reasoning)
Penalaran deduktif terjadi ketika suatu kesimpulan diturunkan secara logis dari seperangkat premis yang berasal dari teori, di mana kesimpulan tersebut akan benar apabila semua premisnya benar (Ketokivi dan Mantere 2010).
Sebagai contoh, penelitian kita mungkin mengajukan pertanyaan:
“Sejauh mana permintaan kemungkinan akan melebihi pasokan untuk telepon seluler baru yang akan segera diluncurkan?”
Kemudian kita membentuk tiga premis:
- bahwa pengecer (retailers) hanya memperoleh alokasi stok terbatas dari produsen;
- bahwa permintaan pelanggan terhadap telepon tersebut melebihi pasokan;
- bahwa pengecer mengizinkan pelanggan melakukan pre-order telepon tersebut.
Jika premis-premis ini benar, maka kita dapat menyimpulkan secara deduktif bahwa seluruh alokasi telepon baru tersebut kemungkinan telah “terjual” secara online sebelum hari peluncuran.
Penalaran Induktif (Inductive Reasoning)
Sebaliknya, dalam penalaran induktif terdapat celah logis antara kesimpulan dan premis yang diamati; kesimpulan tersebut “dinilai” didukung oleh observasi yang dilakukan (Ketokivi dan Mantere 2010).
Kembali pada pertanyaan mengenai kemungkinan permintaan terhadap telepon baru yang akan diluncurkan, kita akan memulai dari observasi tentang peluncuran tersebut. Premis yang diamati adalah:
- media berita melaporkan bahwa pengecer mengeluhkan alokasi stok yang terbatas dari produsen;
- media berita melaporkan bahwa permintaan telepon diperkirakan melebihi pasokan;
- pengecer mengizinkan pelanggan melakukan pre-order.
Berdasarkan observasi ini, kita memiliki alasan yang kuat untuk percaya bahwa permintaan pengecer akan melebihi pasokan dan seluruh alokasi telepon baru kemungkinan telah “terjual” sebelum hari peluncuran.
Namun, meskipun kesimpulan kita didukung oleh observasi tersebut, kesimpulan itu tidak dijamin benar. Di masa lalu, produsen pernah meluncurkan telepon baru yang ternyata memiliki penjualan yang mengecewakan (Griffin 2019).
Terdapat juga pendekatan ketiga dalam pengembangan teori yang sama umum digunakan dalam penelitian, yaitu penalaran abduktif (abductive reasoning), yang dimulai dari observasi terhadap suatu “fakta yang mengejutkan” (surprising fact) (Ketokivi dan Mantere 2010).
Dalam pendekatan ini, fakta mengejutkan tersebut merupakan kesimpulan, bukan premis. Berdasarkan kesimpulan tersebut, ditentukan seperangkat premis yang mungkin dan dianggap cukup atau hampir cukup untuk menjelaskan kesimpulan itu. Kemudian dilakukan penalaran bahwa apabila seperangkat premis tersebut benar, maka kesimpulan itu juga akan benar secara alami. Karena seperangkat premis tersebut cukup (atau hampir cukup) untuk menghasilkan kesimpulan, maka terdapat alasan untuk percaya bahwa premis-premis tersebut juga benar.
Kembali pada contoh mengenai kemungkinan permintaan pasar terhadap telepon seluler baru yang akan segera diluncurkan, fakta mengejutkan (kesimpulan) mungkin berupa laporan media bahwa pengecer menyatakan mereka tidak akan memiliki stok tersisa untuk dijual pada hari peluncuran telepon tersebut.
Namun, apabila pengecer memang mengizinkan pelanggan melakukan pre-order sebelum peluncuran, maka tidaklah mengejutkan jika seluruh alokasi telepon mereka telah habis terjual. Oleh karena itu, dengan menggunakan penalaran abduktif, kemungkinan bahwa pengecer tidak memiliki stok tersisa pada hari peluncuran menjadi masuk akal.
Berdasarkan tiga pendekatan pengembangan teori ini (Gambar 4.1):
- jika penelitian Anda dimulai dari teori, yang biasanya dikembangkan dari pembacaan literatur akademik, kemudian Anda merancang strategi penelitian untuk menguji teori tersebut, maka Anda menggunakan pendekatan deduktif (Tabel 4.4);
- sebaliknya, jika penelitian Anda dimulai dengan mengumpulkan data untuk mengeksplorasi suatu fenomena dan Anda menghasilkan atau membangun teori (sering kali dalam bentuk kerangka konseptual), maka Anda menggunakan pendekatan induktif (Tabel 4.4);
- sedangkan jika Anda mengumpulkan data untuk mengeksplorasi suatu fenomena, mengidentifikasi tema-tema, dan menjelaskan pola-pola guna menghasilkan teori baru atau memodifikasi teori yang sudah ada, yang kemudian diuji kembali melalui pengumpulan data tambahan, maka Anda menggunakan pendekatan abduktif (Tabel 4.4).
Tabel 4.4. Deduksi, induksi, dan abduksi: dari penalaran menuju penelitian
| Aspek | Deduksi (Deduction) | Induksi (Induction) | Abduksi (Abduction) |
|---|---|---|---|
| Logika | Dalam inferensi deduktif, jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga harus benar | Dalam inferensi induktif, premis yang diketahui digunakan untuk menghasilkan kesimpulan yang belum teruji | Dalam inferensi abduktif, premis yang diketahui digunakan untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat diuji |
| Generalisasi | Menggeneralisasi dari yang umum ke yang khusus | Menggeneralisasi dari yang khusus ke yang umum | Menggeneralisasi dari interaksi antara yang khusus dan yang umum |
| Penggunaan data | Pengumpulan data digunakan untuk mengevaluasi proposisi atau hipotesis yang berkaitan dengan teori yang sudah ada | Pengumpulan data digunakan untuk mengeksplorasi fenomena, mengidentifikasi tema dan pola, serta membangun kerangka konseptual | Pengumpulan data digunakan untuk mengeksplorasi fenomena, mengidentifikasi tema dan pola, menempatkannya dalam kerangka konseptual, lalu mengujinya melalui pengumpulan data berikutnya, dan seterusnya |
| Teori | Falsifikasi atau verifikasi teori | Pembentukan dan pengembangan teori | Pembentukan atau modifikasi teori; menggabungkan teori yang sudah ada bila sesuai untuk membangun teori baru atau memodifikasi teori yang sudah ada |
| Landasan filosofis | Positivisme (Pragmatisme) | Interpretivisme (Realisme kritis) (Postmodernisme) (Pragmatisme) | (Interpretivisme) Realisme kritis Postmodernisme Pragmatisme |
Tiga subbagian berikutnya mengeksplorasi perbedaan dan persamaan antara ketiga pendekatan tersebut serta implikasinya terhadap penelitian Anda.
Deduksi (Deduction)
Seperti telah disebutkan sebelumnya, deduksi banyak dipengaruhi oleh apa yang biasanya kita anggap sebagai penelitian ilmiah (scientific research). Pendekatan ini melibatkan pengembangan suatu teori yang kemudian diuji secara ketat melalui serangkaian proposisi. Oleh karena itu, deduksi menjadi pendekatan dominan dalam pengembangan teori pada penelitian ilmu alam, di mana hukum-hukum menjadi dasar penjelasan, memungkinkan antisipasi terhadap fenomena, memprediksi kemunculannya, dan karenanya memungkinkan fenomena tersebut dikendalikan.
Blaikie dan Priest (2019) menjelaskan langkah-langkah berurutan yang biasanya terjadi dalam pendekatan deduktif:
- Mengajukan ide sementara, premis, hipotesis (yaitu proposisi yang dapat diuji mengenai hubungan antara dua atau lebih konsep atau variabel), atau serangkaian hipotesis untuk membentuk suatu teori.
- Dengan menggunakan literatur yang ada, atau dengan menentukan kondisi di mana teori tersebut diperkirakan berlaku, peneliti menurunkan satu atau beberapa proposisi yang dapat diuji.
- Memeriksa premis dan logika argumen yang menghasilkan premis tersebut, lalu membandingkan argumen tersebut dengan teori-teori yang sudah ada untuk melihat apakah argumen itu memberikan kemajuan dalam pemahaman. Jika iya, maka proses dilanjutkan.
- Menguji premis dengan mengumpulkan data yang sesuai untuk mengukur konsep atau variabel dan kemudian menganalisisnya.
- Jika hasil analisis tidak konsisten dengan premis (artinya pengujian gagal), maka teori tersebut dianggap salah dan harus ditolak atau dimodifikasi, lalu proses dimulai kembali.
- Jika hasil analisis konsisten dengan premis, maka teori tersebut diperkuat atau terkonfirmasi (corroborated).
Pendekatan deduktif memiliki beberapa karakteristik penting.
Pertama, terdapat upaya untuk menjelaskan hubungan kausal antara konsep dan variabel. Misalnya, pertanyaan penelitian Anda mungkin berbunyi:
“Mengapa tingkat ketidakhadiran (employee absenteeism) karyawan tinggi di sebuah toko ritel?”
Setelah membaca literatur akademik mengenai pola ketidakhadiran, Anda mengembangkan teori bahwa terdapat hubungan antara ketidakhadiran, usia pekerja, dan lama masa kerja. Oleh karena itu, Anda mengembangkan sejumlah hipotesis, termasuk hipotesis yang menyatakan bahwa ketidakhadiran secara signifikan lebih mungkin terjadi pada pekerja yang lebih muda, dan hipotesis lain yang menyatakan bahwa ketidakhadiran secara signifikan lebih mungkin terjadi pada pekerja yang memiliki masa kerja relatif singkat.
Untuk menguji hipotesis tersebut, Anda mengumpulkan data kuantitatif. (Hal ini bukan berarti pendekatan deduktif tidak dapat menggunakan data kualitatif.) Bisa jadi terdapat perbedaan penting dalam cara pekerjaan diatur di berbagai toko. Oleh karena itu, Anda perlu menentukan secara tepat kondisi-kondisi di mana teori Anda kemungkinan berlaku dan mengumpulkan data yang sesuai dalam kondisi tersebut.
Dengan melakukan hal ini, Anda membantu memastikan bahwa perubahan tingkat ketidakhadiran benar-benar merupakan fungsi dari usia pekerja dan lama masa kerja, bukan akibat aspek lain dari toko, misalnya cara karyawan dikelola.
Penelitian Anda akan menggunakan metodologi yang sangat terstruktur untuk mempermudah replikasi penelitian, yang merupakan isu penting untuk menjamin reliabilitas, sebagaimana ditekankan pada Bagian 5.11.
Karakteristik penting lainnya dari deduksi adalah bahwa konsep-konsep perlu dioperasionalisasikan (operationalised) agar fakta dapat diukur, sering kali secara kuantitatif. Dalam contoh ini, salah satu variabel yang perlu diukur adalah ketidakhadiran (absenteeism). Apa yang dimaksud dengan ketidakhadiran harus didefinisikan secara ketat: ketidakhadiran selama satu hari penuh mungkin dihitung, tetapi bagaimana dengan ketidakhadiran selama dua jam?
Selain itu, apa yang dimaksud dengan “masa kerja singkat” dan “karyawan muda” juga harus ditentukan secara jelas. Yang terjadi di sini adalah penerapan prinsip reduksionisme (reductionism). Prinsip ini menyatakan bahwa masalah secara keseluruhan akan lebih mudah dipahami apabila direduksi menjadi elemen-elemen yang paling sederhana.
Karakteristik terakhir dari deduksi adalah generalisasi. Agar dapat melakukan generalisasi, kita perlu memilih sampel secara hati-hati dan memastikan ukurannya memadai (Bagian 7.2 dan 7.3). Dalam contoh di atas, penelitian pada satu toko tertentu hanya memungkinkan kita menarik inferensi tentang toko tersebut; akan berbahaya jika langsung memprediksi bahwa usia muda pekerja dan masa kerja singkat selalu menyebabkan ketidakhadiran dalam semua situasi. Hal ini dibahas lebih rinci pada Bagian 5.11.
Sebagai pendekatan ilmiah yang menekankan struktur, kuantifikasi, generalisasi, dan hipotesis yang dapat diuji, pendekatan deduktif paling mungkin didasarkan pada filosofi penelitian positivisme.
Induksi (Induction)
Pendekatan alternatif untuk menjawab pertanyaan dan mengembangkan teori mengenai ketidakhadiran karyawan di toko ritel adalah memulai dengan mewawancarai sampel karyawan dan manajer lini mereka mengenai pengalaman bekerja di toko tersebut. Tujuannya adalah memperoleh gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi, sehingga sifat dari ketidakhadiran karyawan dapat dipahami dengan lebih baik.
Tugas Anda kemudian adalah memahami dan menafsirkan data wawancara yang telah dikumpulkan melalui proses analisis. Hasil dari analisis ini adalah perumusan teori, yang sering kali dinyatakan dalam bentuk kerangka konseptual (conceptual framework). Misalnya, Anda mungkin menemukan bahwa terdapat hubungan antara ketidakhadiran dan lamanya seorang karyawan bekerja di toko ritel tersebut.
Sebaliknya, Anda juga mungkin menemukan adanya alasan-alasan lain yang saling bersaing sebagai penyebab ketidakhadiran, yang mungkin berhubungan atau tidak berhubungan dengan usia maupun masa kerja karyawan. Anda mungkin akhirnya menghasilkan teori yang sama seperti pada pendekatan deduktif, tetapi cara penalarannya berbeda: dalam induksi, teori muncul setelah data, bukan sebaliknya seperti dalam deduksi.
Sebelumnya telah disebutkan bahwa deduksi berasal dari penelitian ilmu alam. Namun, kemunculan ilmu-ilmu sosial pada abad kedua puluh membuat para peneliti ilmu sosial berhati-hati terhadap deduksi. Mereka mengkritik pendekatan penalaran yang memungkinkan hubungan sebab-akibat dibuat antara variabel tertentu tanpa memahami cara manusia menafsirkan dunia sosial mereka.
Mengembangkan pemahaman semacam itu justru merupakan kekuatan utama pendekatan induktif. Dalam contoh ketidakhadiran karyawan, jika Anda menggunakan pendekatan induktif, Anda akan memperlakukan karyawan sebagai manusia yang kehadirannya merupakan konsekuensi dari bagaimana mereka memandang pengalaman kerja mereka, bukan sebagai objek penelitian yang tidak berpikir dan hanya bereaksi secara mekanis terhadap keadaan tertentu.
Para pendukung induksi juga mengkritik kecenderungan deduksi untuk membangun metodologi yang kaku sehingga tidak memungkinkan penjelasan alternatif mengenai apa yang sedang terjadi. Dalam pengertian ini, terdapat kesan bahwa pemilihan teori dan definisi hipotesis dalam deduksi bersifat final.
Teori alternatif mungkin saja diajukan, tetapi tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan oleh desain penelitian yang sangat terstruktur. Dalam kaitan ini, karakteristik penting dari desain penelitian ketidakhadiran yang disebutkan sebelumnya adalah operasionalisasi konsep.
Sebagaimana terlihat dalam contoh tersebut, usia didefinisikan secara tepat. Namun, pendekatan yang kurang terstruktur mungkin akan mengungkap penjelasan alternatif mengenai hubungan antara ketidakhadiran dan usia yang justru tidak terlihat karena definisi yang terlalu ketat.
Penelitian yang menggunakan pendekatan induktif kemungkinan besar sangat memperhatikan konteks tempat peristiwa tersebut terjadi. Oleh karena itu, mempelajari sampel kecil partisipan mungkin lebih tepat dibandingkan menggunakan jumlah besar seperti dalam pendekatan deduktif.
Peneliti dalam tradisi ini juga lebih cenderung bekerja dengan data kualitatif dan menggunakan berbagai metode untuk mengumpulkan data tersebut guna memperoleh beragam pandangan mengenai fenomena yang diteliti (sebagaimana akan dibahas pada Bab 10). Karena keterkaitannya dengan humaniora dan penekanannya pada pentingnya interpretasi subjektif, pendekatan induktif paling mungkin dipengaruhi oleh filosofi interpretivisme (Tabel 4.4).
Abduksi (Abduction)
Alih-alih bergerak dari teori ke data (seperti dalam deduksi) atau dari data ke teori (seperti dalam induksi), pendekatan abduktif bergerak bolak-balik antara data dan teori, melakukan perbandingan dan interpretasi, sehingga pada dasarnya menggabungkan deduksi dan induksi (Suddaby 2006).
Meskipun Arthur Conan Doyle (1989) menyebut detektif Sherlock Holmes menggunakan deduksi, sebenarnya Holmes menggunakan abduksi.
Seorang peneliti abduktif, dengan cara yang mirip seperti Sherlock Holmes, “memilih atau menciptakan hipotesis sementara untuk menjelaskan kasus empiris atau kumpulan data tertentu … lalu mengejar hipotesis tersebut melalui penyelidikan lebih lanjut” (Kennedy dan Thornberg 2018: 52).
Oleh karena itu, pengembangan teori secara abduktif bersifat terbuka dan sensitif terhadap data, sekaligus tetap menggunakan teori yang sudah ada sebelumnya sebagai inspirasi dan untuk membantu mengidentifikasi serta menafsirkan pola-pola. Hal ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, sesuai dengan apa yang sebenarnya banyak dilakukan oleh peneliti bisnis dan manajemen.
Pendekatan ini dimulai dari observasi terhadap fenomena atau fakta yang mengejutkan, kemudian berusaha menyusun teori yang masuk akal mengenai bagaimana hal tersebut dapat terjadi.
Van Maanen dan rekan-rekannya (2007) mencatat bahwa beberapa teori yang masuk akal dapat menjelaskan apa yang diamati dengan lebih baik dibanding teori lainnya, dan teori-teori inilah yang kemudian akan menghasilkan kejutan-kejutan baru. Mereka berpendapat bahwa kejutan tersebut dapat muncul pada tahap mana pun dalam proses penelitian, termasuk saat menulis laporan penelitian Anda. Van Maanen dan rekan-rekannya juga menekankan bahwa deduksi dan induksi melengkapi abduksi sebagai logika untuk menguji teori-teori yang dianggap masuk akal.
Menerapkan pendekatan abduktif pada penelitian mengenai alasan tingginya ketidakhadiran karyawan di sebuah toko ritel berarti memperoleh data yang cukup rinci dan kaya sehingga memungkinkan kita mengeksplorasi fenomena tersebut serta mengidentifikasi dan menjelaskan tema-tema maupun pola-pola terkait ketidakhadiran karyawan.
Selanjutnya, kita akan mencoba mengintegrasikan penjelasan-penjelasan tersebut ke dalam suatu kerangka konseptual secara keseluruhan, sehingga dapat mengembangkan teori mengenai ketidakhadiran karyawan di toko ritel. Teori ini kemudian diuji menggunakan bukti yang berasal dari data yang sudah ada maupun data baru, dan direvisi bila diperlukan (Kotak 4.8).
Karena fleksibilitas pendekatan abduktif, pendekatan ini dapat digunakan oleh peneliti dari berbagai filosofi penelitian yang berbeda. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa karena deduksi murni maupun induksi murni sangat sulit — atau bahkan mustahil — untuk dicapai, maka sebagian besar peneliti manajemen dalam praktiknya menggunakan setidaknya unsur tertentu dari abduksi.
Namun demikian, pendekatan abduktif yang berkembang dengan baik paling mungkin didasarkan pada pragmatisme atau postmodernisme, dan juga dapat didasarkan pada realisme kritis. Pendekatan abduktif kadang-kadang juga disebut retroduction (retroduksi). Sebenarnya, retroduksi diyakini sebagai istilah asli untuk apa yang kemudian dikenal sebagai abduksi akibat kesalahan terjemahan dan kesalahpahaman terhadap teks-teks filsafat lama (Peirce 1896).
Terlepas dari fakta historis tersebut, konsep “retroduksi” mungkin penting bagi Anda sebagai peneliti apabila filosofi penelitian yang Anda pilih adalah realisme kritis. Kaum realis kritis sering memilih menyebut pendekatan mereka sebagai retroduktif untuk menekankan aspek historis dari penelitian mereka, yaitu ketika mereka memulai dari suatu fenomena mengejutkan di masa kini lalu bergerak mundur ke masa lalu untuk mengidentifikasi mekanisme dan struktur mendasar yang mungkin menghasilkan fenomena tersebut (Reed 2005).
Memilih Pendekatan terhadap Pengembangan Teori (Choosing an Approach to Theory Development)
Pada tahap ini Anda mungkin bertanya pada diri sendiri: “Lalu apa pentingnya? Mengapa pilihan pendekatan terhadap pengembangan teori begitu penting?”
Mark Easterby-Smith dan rekan-rekannya (2012) menyebutkan tiga alasan.
1. Membantu menentukan desain penelitian secara lebih tepat
Pilihan pendekatan membantu Anda membuat keputusan yang lebih terinformasi mengenai desain penelitian (Bab 5), yang bukan hanya sekadar prosedur pengumpulan dan analisis data. Desain penelitian merupakan konfigurasi keseluruhan suatu penelitian, yang mencakup pertanyaan tentang:
- jenis bukti apa yang dikumpulkan,
- dari mana bukti tersebut diperoleh,
- dan bagaimana bukti tersebut diinterpretasikan untuk memberikan jawaban yang baik terhadap pertanyaan penelitian awal.
2. Membantu memilih strategi dan metode penelitian yang sesuai
Pilihan pendekatan juga membantu Anda memikirkan strategi penelitian dan pilihan metodologis yang cocok untuk penelitian Anda — dan yang tidak cocok.
Misalnya, jika Anda lebih tertarik memahami mengapa sesuatu terjadi daripada sekadar mendeskripsikan apa yang terjadi, maka pendekatan induktif mungkin lebih sesuai dibanding pendekatan deduktif.
3. Membantu menyesuaikan desain penelitian terhadap keterbatasan
Pengetahuan mengenai berbagai tradisi penelitian memungkinkan Anda menyesuaikan desain penelitian dengan berbagai kendala. Kendala tersebut bisa bersifat praktis, misalnya keterbatasan akses data, atau muncul karena kurangnya pengetahuan awal mengenai topik penelitian.
Anda mungkin saja belum berada pada posisi yang memungkinkan untuk merumuskan hipotesis karena pemahaman Anda terhadap topik tersebut masih terbatas.
Sejauh ini, pembahasan mengenai induksi dan deduksi mungkin memberi kesan bahwa terdapat batas yang tegas antara keduanya. Namun, hal ini sebenarnya menyesatkan.
Sebagaimana telah terlihat dalam pembahasan mengenai abduksi, deduksi dan induksi dapat dikombinasikan dalam satu penelitian yang sama. Bahkan, berdasarkan pengalaman penulis, kombinasi tersebut sering kali menguntungkan, meskipun biasanya salah satu pendekatan tetap lebih dominan.
Pada titik ini Anda mungkin mulai bertanya apakah penalaran penelitian Anda akan lebih bersifat deduktif, induktif, atau abduktif. Jawaban yang jujur adalah:
“Tergantung.”
Secara khusus, hal tersebut tergantung pada:
- filosofi penelitian Anda,
- penekanan penelitian Anda (Kotak 4.9),
- dan sifat topik penelitian Anda.
Filosofi yang berbeda cenderung mengarahkan peneliti pada pendekatan yang berbeda:
- kaum positivis cenderung menggunakan deduksi,
- kaum interpretivis cenderung menggunakan induksi,
- sedangkan kaum postmodernis, pragmatis, dan realis kritis cenderung menggunakan abduksi (meskipun realis kritis sering menyebutnya retroduction) (Tabel 4.4).
Topik penelitian yang memiliki banyak literatur sehingga memungkinkan Anda mendefinisikan kerangka teori dan hipotesis dengan jelas lebih cocok menggunakan deduksi. Sebaliknya, untuk topik yang masih baru, memunculkan banyak perdebatan, dan memiliki sedikit literatur, pendekatan induktif mungkin lebih sesuai, yaitu dengan menghasilkan data terlebih dahulu lalu menganalisis dan merefleksikan tema-tema teoretis yang muncul dari data tersebut.
Sementara itu, topik yang memiliki banyak informasi dalam satu konteks tetapi sedikit informasi dalam konteks penelitian Anda dapat lebih cocok menggunakan pendekatan abduktif, karena memungkinkan Anda memodifikasi teori yang sudah ada.
Waktu yang tersedia juga menjadi pertimbangan penting.
Penelitian deduktif biasanya lebih cepat diselesaikan, meskipun tetap membutuhkan waktu untuk mempersiapkan studi sebelum pengumpulan dan analisis data dilakukan. Pengumpulan data sering kali dilakukan dalam satu tahap (one take), sehingga jadwal penelitian biasanya lebih mudah diprediksi.
Sebaliknya, penelitian abduktif dan terutama induktif dapat berlangsung jauh lebih lama. Ide-ide sering kali muncul secara bertahap melalui proses pengumpulan dan analisis data yang panjang.
Hal ini berkaitan dengan pertimbangan penting lainnya, yaitu sejauh mana Anda siap menghadapi risiko.
Deduksi dapat dianggap sebagai strategi berisiko lebih rendah, meskipun tetap memiliki risiko, seperti rendahnya tingkat pengembalian kuesioner. Dalam induksi dan abduksi, Anda harus hidup dengan ketidakpastian mengenai kapan dan bagaimana pola data serta teori yang menarik dan berguna akan muncul.
Terakhir, terdapat persoalan mengenai audiens.
Berdasarkan pengalaman penulis, para manajer biasanya lebih familiar dengan deduksi dan lebih cenderung mempercayai kesimpulan yang dihasilkan melalui pendekatan tersebut.
Anda juga mungkin perlu mempertimbangkan preferensi orang yang akan menilai laporan penelitian Anda. Setiap orang memiliki preferensi masing-masing mengenai pendekatan yang dianggap tepat.
Poin terakhir ini menunjukkan bahwa tidak semua keputusan mengenai pendekatan penalaran selalu didasarkan pada pertimbangan praktis.
Catherine Hakim (2000) menggunakan metafora arsitektur untuk menjelaskan hal ini. Ia memperkenalkan gagasan tentang preferred style (gaya yang disukai peneliti), yang mirip dengan gaya arsitek, dan dapat mencerminkan:
“preferensi dan ide arsitek sendiri … serta preferensi gaya dari pihak yang membayar pekerjaan tersebut dan harus hidup dengan hasil akhirnya” (Hakim 2000: 1).
Hal ini sejalan dengan pandangan Buchanan dan rekan-rekannya (2013: 59), yang menyatakan bahwa:
“kebutuhan, kepentingan, dan preferensi peneliti … sering diabaikan tetapi sebenarnya sangat penting dalam perkembangan kerja lapangan (fieldwork).”
Namun demikian, terdapat catatan penting.
Meskipun peneliti sering menyempurnakan pertanyaan penelitian seiring berjalannya penelitian, mengubah sepenuhnya esensi pertanyaan penelitian dapat menjadi masalah, terutama karena waktu untuk menyelesaikan proyek penelitian biasanya terbatas.
Menjaga agar esensi pertanyaan penelitian tidak berubah menjadi sangat penting apabila pertanyaan tersebut telah ditentukan oleh organisasi tertentu, misalnya dalam proyek konsultasi yang mereka minta Anda lakukan.
Share via: